CERITA INSPIRASI II

September 17, 2010 - 3:38 am No Comments

Sengsara Membawa Berkah
Oleh : Kartika Rahma Sari (H14100049/Laskar 10)

Hasil Ujian Tengah Semester sudah keluar, diluar dugaan hasilnya sungguh mengecewakan. Padahal dalam bayangan saya, hasil yang nantinya saya dapatkan tidak akan terlalu mengecewakan saya. Di saat itu saya kehilangan semangat belajar saya. Rasanya setiap memegang buku pelajaran saya selalu teringat dengan nilai buruk saya. Saya terus memikirkan cara yang tepat untuk memperbaiki nilai saya. Berbagai cara saya lakukan, mulai dari menempelkan kata-kata motivasi di meja belajar, di dinding tempat tidur, dan di atap tempat tidur juga bersikap acuh kepada teman yang saya anggap merupakan faktor nilai buruk saya.
Di kelas saya juga mencoba untuk bersikap fokus pada materi yang diberikan oleh ibu guru saya. Sikap itu membuat saya memilih untuk selalu duduk di tempat yang sekiranya saya dapat memperhatikan penjelasan guru dengan baik. Tentu saja, dengan tempat duduk saya yang mudah terlihat oleh guru, membuat saya sering menjadi sasaran pertanyaannya. Walaupun gelagapan tidak karuan, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dengan baik. Yang saya pikirkan hanyalah apa yang seharusnya saya lakukan untuk memperbaiki nilai saya. Sungguh saat itu hanya nilai bagus, nilai bagus, dan nilai bagus.
Tanpa memikirkan lebih jauh resiko dari lingkkungan sekitar, saya terus berlaku seperti itu. Hingga malam itu saya belajar bersama teman sekamar saya, karena adanya kesalahpahaman saya beradu mulut dengan salah seorang teman sekamar saya. Dan entah setelah kami bertengkar, ia menangis. Saat itu ego saya sedang ada di atas angin, tentu saja saya berpikir “Teman saya nangis bukan karena kesalahan saya, tapi karena kesalahannya sendiri mengganggu saya belajar”. Kejadian itu kelihatannya membuat teman saya itu marah. Dia cuek sekali pada saya. Saya pun merasa “Ah, bodoh amat!”.
Kejadian itu tidak juga membuat saya sadar, justru malah membuat tingkah laku saya menjadi-jadi. Saya benar-benar dibutakan oleh keinginan saya untuk mendapat nilai bagus. Dan peristiwa itu pun terjadi. Hari itu di kelas terakhir sembelum ujian semester, ibu guru menerangkan materi terakhir. Teman samping saya tiba-tiba panik. Melihat hal itu saya berbisik padanya,
“Kamu kenapa?”tanya saya.
Dia tidak menjawab pertanyaan saya dan malah sibuk dengan kepanikannya sendiri. Saya pun diam dan kembali berusaha fokus pada pelajaran. Saya pikir “Yeah, saya bisa memperbaiki nilai saya. Sedikit lagi, lagi, dan lagi pasti saya bisa”. Tiba-tiba teman saya yang panik tadi menyenggol saya.
“Ini coba kamu baca!” katanya seraya menyodorkan Hpnya.
Saya membaca tulisan yang tertera di layar Hp tersebut. Saya kaget dan tersenyum kecil. Tiba-tiba terdengar suara,
“KAMU!! KENAPA TERTAWA-TAWA? MEMANGNYA ADA YANG LUCU DIPENJELASAN SAYA? AYO KE DEPAN!!!”guru saya membentak saya dengan tatapan yang tajam.
Tentu saja saya kaget sekali. Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Saya hanya bersimpati dengan teman saya. Kejadian itu berlangsung cepat sekali. Di hadapan seluruh murid saya dimarahi habis-habisan karena tidak mau memngakui kesalahan yang tidak saya perbuat. Akhirnya nama saya dilingkari. Seketika jantung saya rasanya mau copot. Usaha yang saya lakukan selama ini bakal sia-sia. Percuma. Guru itu pasti mengurangi nilai ujian semester saya. Ujian Tengah Semester jelek ditambah ujian semester jelek, pasti nilai akhir saya juga jelek. Saya benar-benar terpukul. Sesampai di kamar saya langsung menangis. Teman sekamar saya termasuk yang bertengkar dengan saya mencoba menghibur saya dengan kata-kata bijak. Saya merasa malu, saya sadar selama ini saya terlalu egois. Saya pun memimnta maaf pada mereka dan mereka juga memaafkan saya. Kejadian-kejadian itu membukakan mata saya untuk tetap peduli dengan keadaan sekitar juga memperbesar semangat saya untuk mendaptkan nilai baik. Ujian semester akhirnya tiba. Dan alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Kini saatnya pengumuman hasil ujian. Walaupun hasilnya tidak sempurna, tapi setidaknya saya puas dengan nilai itu. Alhamdulillah.

CERITA INSPIRASI I

September 17, 2010 - 3:31 am No Comments

Kisah Penjual Jamu Gendong
Oleh : Kartika Rahma Sari ( H14100049/Laskar 10)

Bu Surti, sebut saja begitu, adalah seorang penjual jamu gendong di areal pertambangan emas Freeport, Irian Jaya. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak-anaknya yang berharap, nanti sore hari Bu Surti membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Bu Surti terus menyusuri jalanan Freeport yang dingin sambil berteriak menawarkan jamunya. Sampai tengah hari, Bu Surti tiba di puncak Freeport, ia duduk dan terus menawarkan jamunya. Mula-mula tidak ada yang menghiraukannya. Perutnya mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya sedari tadi. Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan penjual Freeport lainnya. Wajah mereka cukup berseri. “Pasti, mereka ini sudah mendapat banyak uang.” pikir Bu Surti. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini, bu? Sepertinya laris ya bu?” kata Bu Surti memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang yang membeli dagangan saya.” kata penjual rokok yang kemudian diketahui namanya Pak Soleh.
“Jamu saya belum laku-laku.” kata Bu Surti.
Dan saat itu datanglah seorang ibu menghampiri dagangan Bu Surti.
“Bu beli jamu beras kencurnya ya bu satu?”kata ibu pembeli.
“Oh mari bu, ini jamunya.”jawab Bu Surti seraya menyerahkan jamunya.
“Ini bu uangnya.”
“Iya terima kasih banyak ya ibu?”kata Bu Surti.
“Sama-sama ibu.”
Kemudian ibu tersebut meninggalkan Bu Surti dan Pak Sholeh.
”Alhamdulillah ya Allah.” kata Bu Surti.
”Iya ibu, sekecil apapun rizki yang telah Tuhan kasih ke kita harus selalu kita syukuri, betul kan ibu?”kata Pak Sholeh.
”Iya betul Pak Sholeh.”
Matahari terus beranjak naik, Bu Surti memutuskan untuk menyudahi aktivitas berdagangnya. Dan seperti hari-hari lain sepulang dari tempat berjualan ia menyempatkan diri untuk mampir ke tempat peristirahatan yang terletak di kaki bukit Freeport. Disana ia mencari air untuk berwudhu kemudian mengeluarkan mukenanya. Ia pun bersujud pada Yang Maha Kuasa.
”Ya Allah, terima kasih atas rizki yang telah Kau berikan padaku hari ini.”syukur Bu Surti. Setiap hari setelah selesai berdagang Bu Surti memang selalu pergi ke tempat tersebut, mengucapkan kata-kata syukurnya.
Sampai pada suatu saat di siang hari yang terik, Bu Surti kembali menjajakan dagangannya. Entah dari mana datangnya di hari itu ia memiliki semangat dan keyakinan luar biasa bahwa jamu-jamunya akan laku keras. Sehingga dalam menjalankan aktivitas hari itu, ia melakukannya dengan bahagia. Dan ternyata semangatnya itu benar-benar membuahkan hasil, hari itu orang-orang banyak membeli jamunya. Ia memperoleh banyak uang karena jamu-jamunya habis terjual. Hari itu Bu Surti mendapatkan pelajaran yang luar biasa, bahwa jika kita melakukan suatu hal dengan perasaan ikhlas, maka segala sesuatunya akan semakin mudah untuk di jalani. Keyakinan yang kuat akan hasil yang diperoleh juga ikut mempengaruhi bagaimana kita melakukan pekerjaan tersebut. Dan hari ini, Bu Surti beserta keyakinannya berhasil membuktikannya dengan di bukanya Depot Jamu Bu Surti di wilayah pertambangan Freeport.